
Nonton film emang paling ga enak kalo sendirian, jadi gua pun mengajak teman-teman kampus. Tetapi yaa namanya mahasiswa, waktu itu ada saja yang berdalih kalo lagi nggak punya uang. Akhirnya gua memutuskan untuk mengajak teman rumah, dan jadilah kami nonton. Memilih tempat mana yang paling murah, akhirnya kami memutuskan untuk nonton di salah satu mall besar di daerah Tangerang.
Di awal film, kami tertawa-tawa dikarenakan logat bahasanya dari daerah seberang, jadinya terdengar lucu. Baru ada kurang lebih setengah jam, tiba-tiba layarnya mati, dan ternyata satu bioskop itu mati semua -_- . 1, 2, 3, 4..... tak kunjung nyala. Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit baru nyala, ga habis pikir aja mall sebesar itu masa bioskopnya mati hffptt.
Sudah lupakan saja insiden itu, di pertengahan film hingga akhir, mulailah ada gejolak emosi *lebay. Dari yang tadinya membenci hayati dan suaminya, menertawakan jongosnya zainuddin, sampai merasa kasian pada zainuddin, lengkap sudah di film ini. Ada satu adegan dimana gua bingung harus berbuat apa, yaitu ketika zainuddin menangis dengan logat daerah seberangnya karena melihat hayati dalam keadaan sekarat. Di satu sisi, gua bener-bener amat sangat hampir mau menangis *apasih. Baru aja menitikkan air mata, eh temen gua malah ketawa-tawa terus pas ngeliat ke gua dia malah ngeledekin, kan males banget yeee. Kenapa temen gua ketawa ? Karena dia denger logat bahasa daerahnya zainuddin, terus si zai itu nangisnya sambil ileran di mukanya hayati. Bayangin, coba bayangin, di adegan romantis dan sedih si zainuddin malah ileran coy ILERAN *oke itu lebay* abis itu gua langsung ngakak padahal ga ada yang ketawa -_- .
Habis sudah filmnya kami tonton, dari sana mungkin dapat diambil pelajaran, yaitu:
1. Walaupun tempat bagus tetapi tiket murah, jadi yaa fasilitas kurang
2. Jangan pernah ingkar janji, terutama soal cinta
3. Hati-hati dengan karma
4. Air susu harusnya dibalas dengan air susu juga *apasih
5. Satu lagi, jangan pernah ileran di muka cewek :p











